Ketika pagi datang, sang camar bernyanyi menyanyikan lagu cinta.
Saat senja tiba, langit melukis sebuah pelangi cinta diseberang lautan.
Ombak seolah tak mau ketinggalan, ia menari-nari diiringi hembusan angin beraromakan rindu.
Saat malam tiba semua beralih, burung camar tak lagi bernyanyi.
Burung gagak hitam bersuara, bernada sedih mengungkapkan kerinduannya.
Pelangi cinta yang dilukis sang langit diseberang lautan hilang, menjadi gelap tak bercahaya.
Tarian ombak dengan nada cinta dari angin seketika menjadi tenang tak bergeming.
Aku tak ingin malam tiba, jika angin kerinduan selalu berhembus ketubuhku.
Jika nada cinta tak terdengar, yang ada hanyalah lagu kerinduan yang sendu.
Tak ada cahaya cinta menerangi langit, hanya kehampaan yang ada.
Yang kuingin adalah kapanpun setiap waktu di penuhi aroma cinta.
Keindahan selalu bersamanya, mengiringku dalam setiap jengkal langkahku.
Langkah menuju singgasana cinta, dimana tak ada rasa benci, yang ada hanya kasih sayang.
Langkahku masih panjang dan diriku harus segera sampai pada tempat itu.
Selasa, 02 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar